Old school Easter eggs.


Abdullah ibn Umar ra.- Sahabat
Rasul, Sahabat Malam
Perang Khandak berkecamuk.
Beredar kabar, siapa saja lelaki
berusia 15 tahun ke atas berhak
ikut berjihad. Mendengar itu
seorang pemuda berseri-seri.
Usianya saat itu masuk 15 tahun.
Ia segera mendaftarkan diri.
Itulah idamannya selama ini:
berjihad bersama Rasulullah.
Keikutsertaannya dalam berbagai
medan jihad tak pernah lepas
dalam sejarah hidup pemuda itu.
Saat perang membuka kota
Mekah (Futuh Makkah), ia berusia
20 tahun dan termasuk pemuda
yang menonjol di medan perang.
Dialah, Abdullah ibn Umar, atau
Ibn Umar.
"Penting sekali mendapatkan
pengakuan (baiat) dari
penduduk Madinah. Yang paling
kukhawatirkan ada tiga orang:
Husain ibn Ali, Abdullah ibn
Zubair, dan Abdullah ibn Umar,"
Muawiyah berwasiat kepada
anaknya, Yazid, yang telah dia
nobatkan sebagai putra
mahkota. Tiga orang itu telah
menyatakan penentangannya
pada pengangkatan Yazid ibn
Muawiyah.
"Adapun Husain ibn Ali, aku
berharap kamu dapat
mengatasinya. Adapun Abdullah
ibn Zubair, kalau kamu berhasil
mengatasinya, kamu harus
menghancurkannya hingga
berkeping-keping. Sedangkan
Ibn Umar, orang ini sebenarnya
terlalu sibuk dengan urusan
akhirat. Asal kamu tidak
mengusik urusan akhiratnya ini,
maka ia akan membiarkan
urusan duniamu."
Berkawan Malam. Menurut
sebagian penulis riwayat, kaum
muslimin masa itu sedang jaya-
jayanya. Muncul daya tarik harta
dan kedudukan membuat
sebagian orang tergoda
memperolehnya. Maka para
sahabat melakukan perlawanan
pengaruh materi itu dengan
mempertegas dirinya sebgai
contoh gaya hidup zuhud dan
salih, menjauhi kedudukan
tinggi.
Ibn Umar pun dikenal sebagai
pribadi yang berkawan malam
untuk beribadah, dan berkawan
dengan dinihari untuk menangis
memohon ampunan-Nya. Akan
halnya soal salat malam ini, ada
riwayatnya. Di masa hayat
Rasulullah, Ibn Umar mendapat
karunia Allah. Setelah selesai salat
bersama Rasulullah, ia pulang,
dan bermimpi. "Seolah-olah di
tanganku ada selembar kain
beludru. Tempat mana saja yang
kuingini di surga, kain beledru
itu akan menerbangkanku ke
sana. Dua malaikat telah
membawaku ke neraka,
memperlihatkan semua bagian
yang ada di neraka. Keduanya
menjawab apa saja yang
kutanyakan mengenai keadaan
neraka," begitulah diungkapkan
Ibn Umar kepada saudarinya
yang juga istri Rasul, Hafshah,
keesokan harinya.
Hafshah langsung menanyakan
mimpi adiknya kepada
Rasulullah. Rasulullah SAW
bersabda, ni’marrajulu 'abdullah,
lau kaana yushallii minallaili
fayuksiru, akan menjadi lelaki
paling utamalah Abdullah itu,
andainya ia sering salat malam
dan banyak melakukannya.
Semenjak itulah, sampai
meninggalnya, Ibn Umar tak
pernah meninggalkan qiyamul
lail, baik ketika mukim atau
bersafar. Ia demikian tekun
menegakkan salat, membaca Al-
Quran, dan banyak berzikir
menyebut asma Allah. Ia amat
menyerupai ayahnya, Umar ibn
Khatthab, yang selalu
mencucurkan airmata tatkala
mendengar ayat-ayat peringatan
dari Al-Quran.
Soal ini, 'Ubaid ibn 'Umair
bersaksi, "Suatu ketika
kubacakan ayat ini kepada
Abdullah ibn Umar." 'Ubaid
membacakan QS 4:41-42 yang
artinya: Maka bagaimanakah
(halnya orang kafir nanti),
apabila Kami datangkan
seseorang saksi (rasul) dari tiap-
tiap umat, dan Kami
mendatangkan kamu (Muhamad)
sebagai saksi atas mereka itu
(sebagai umatmu). Di hari itu
orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul berharap
kiranya mereka ditelan bumi, dan
mereka tidak dapat
menyembunyikan (dari Allah)
sesuatu kejadian pun." Maka Ibn
Umar menangis hingga
janggutnya basah oleh air mata.
Pada kesempatan lain, Ibn Umar
tengah duduk di antara
sahabatnya, lalu membaca QS
83:-6 yang maknanya: Maka
celakalah orang-orang yang
berlaku curang dalam takaran.
Yakni orang-orang yang apabila
menerima takaran dari orang
lain meminta dipenuhi, tetapi
mengurangkannya bila mereka
menakar atau menimbang untuk
orang lain. Tidakkah mereka
merasa bahwa mereka akan
dibangkitkan nanti menghadapi
suatu hari yang dahsyat, yaitu
ketika manusia berdiri
menghadap Tuhan semesta alam.
Lantas Ibn Umar mengulang
bagian akhir ayat ke enam,
"yauma yaquumun naasu lirabbil
'alamiin", ketika manusia berdiri
menghadap Tuhan semesta alam.
Sembari air matanya bercucuran,
sampai akhirnya ia jatuh karena
sekapan rasa duka mendalam
dan banyak menangis.
Abdullah ibn Umar adalah salah
satu sahabat Nabi yang berhati
lembut dan begitu mendalam
cintanya kepada Rasulullah.
Sepeninggal Rasulullah SAW,
apabila ia mendnegar nama
Rasulullah disebut di
hadapannya, ia menangis. Ketika
ia lewat di sebuah tempat yang
pernah disinggahi Rasulullah,
baik di Mekah maupun di
Madinah, ia akan memejamkan
matanya, lantas butiran air
bening meluncur dari sudut
matanya.
Sebagai sahabat Rasul, ahli
ibadah dan dikaruniai mimpi
yang haq, karena mimpinya
dibenarkan Rasulullah, ia menjadi
sosok yang tak punya minat lagi
kepada dunia. Sebuah
kecenderungan yang sudah
nampak sejak ia remaja, ketika
pertama kali gairahnya bangkit
untuk ikut berjihad.
Dermawan. Bagaimana mungkin
Ibn Umar dikatakan tak
berhasrat pada dunia, sedang ia
pedagang yang sukses? Bisa
saja. Sebagai pedagang ia
berpenghasilan banyak karena
kejujurannya berniaga. Selain itu
ia menerima gaji dari Baitul Maal.
Tunjangan yang diperolehnya tak
sedikitpun disimpan untuk
dirinya sendiri, tetapi dibagi-
bagikannya kepada fakir miskin.
Berdagang buat Ibn Umar hanya
sebuah jalan memutar rezeki
Allah di antara hamba-hambanya.
Suatu ketika Ibn Umar menerima
uang sebanyak 4.000 dirham
dan sehelai baju dingin. Sehari
kemudian, periwayat yang
bernama Ayub ibn Wail Ar-Rasibi
melihat Ibn Umar sedang
membeli makanan untuk hewan
tunggangannya dengan
berutang. Maka Ayub ibn Wail ini
mencari tahu kepada
keluarganya. Bukankah Abu
Abdurrahman (maksudnya Ibn
Umar) menerima kiriman empat
ribu dirham dan sehelai baju
dingin? Mengapa dia berutang
untuk membeli pakan hewan
tunggangannya? "Tidak sampai
malam hari, uang itu telah habis
dibagikannya. Mengenai baju
dingin itu, mula-mula dipakainya,
lalu ia pergi keluar, saat kembali
ia sudah tak lagi memakai baju
dingin itu. Ketika kami tanya ke
mana baju dingin itu, Ibn Umar
bilang sudah diberikannya
kepada seorang miskin,"
demikian jawab keluarga Ibn
Umar.
Segera saja Ayub ibn Wail
bergegas menuju pasar. Ia
berdiri di tempat yang agak
tinggi dan berteriak. "Hai kaum
pedagang, apa yang Tuan-tuan
lakukan terhadap dunia. Lihatlah
Ibn Umar, datang kiriman
kepadanya sebanyak empat ribu
dirham, lalu dibagi-bagikannya
hingga esok pagi ia membelikan
hewan tunggangannya makanan
secara berutang."
Kedermawanan Ibn Umar antara
lain juga ditunjukkan dengan
sikap hanya memberi mereka
yang fakir miskin. Ia pun jarang
makan sendirian. Anak-anak
yatim atau golongan melarat
kerap diajaknya makan bersama-
sama. Ia pernah menyalahkan
anak-anaknya sendiri lantaran
mengundang jamuan makan
untuk kalangan hartawan.
"Kalian mengundang orang-
orang yang dalam kekenyangan,
dan kalian biarkan orang-orang
kelaparan."
Sang dermawan memang bukan
mencari nama dengan
kedermawanannya. Dalam
kesehariannya, kaum dhuafa
akrab dengan Ibn Umar. Sifat
santunnya, terutama kepada
fakir miskin, bukan basa-basi.
Orang-orang fakir dan miskin
sudah duduk menunggu di tepi
jalan yang diduga bakal dilewati
Ibn Umar, dengan harapan
mereka akan terlihat oleh Ibn
Umar dan diajak ke rumahnya.
Hati-hati. Adalah Abdullah ibn
Umar orangnya, yang kalau
dimintai fatwa enggan berijtihad.
Karena takut berbuat kesalahan,
meskipun ajaran Islam yang
diikutinya sejak berusia 13 tahun
memberi satu pahala bagi yang
keliru berijtihad, dan dua pahala
bagi yang benar ijtihadnya.
Karena khawatir keliru berijtihad,
ia pun menolak jabatan kadi atau
kehakiman. Padahal ini jabatan
tertinggi di antara jabatan
kenegaraan dan
kemasyarakatan, jabatan yang
juga "basah".
Pernah khalifah Utsman r.a. mau
memberi jabatan kadi, tapi Ibn
Umar menolak. semakin Khalifah
mendesak, Abdullah ibn Umar
makin tegas menolak.
"Apakah antum tak hendak
menaati perintahku?"
"Sama sekali tidak. Hanya, saya
dengar para hakim itu ada tiga
macam: pertama hakim yang
mengadili tanpa ilmu, maka ia
dalam neraka; kedua, yang
mengadili berdasarkan nafsu, ia
pun dalam neraka; dan ketiga,
yang berijtihad sedang ijtihadnya
betul, maka ia dalam keadaan
berimbang, tidak berdosa tapi
tidak pula beroleh pahala. Dan
saya atas nama Allah memohon
kepada antum agar dibebaskan
dari jabatan itu."
Khalifah menerima keberatan itu
dengan syarat, Ibn Umar tak
menyamnpaikan alasan
penolakannya kepada siapa pun.
Sebab, jika seorang yang
bertakwa lagi salih mengetahui
hal ini, niscaya akan mengikuti
jejak Ibn Umar. Kalau sudah
demikian, pupuslah harapan
khalifah mendapatkan kadi yang
takwa dan salih.
Penolakan itu sendiri sebenarnya
karena Ibn Umar masih melihat
di antara sahabat Rasulullah
masih banyak yang salih dan
wara’ yang lebih pantas
memegang jabatan itu. Ibn Umar
sendiri sadar, penolakan itu
takkan sampai berakibat
jatuhnya posisi kadi ke tangan
yang tak pantas memegangnya.
Calon Khalifah Ketiga. Penerus
kekhalifahan Islam sepeninggal
Abu Bakar Ash-Shiddiq, adalah
Umar ibn Khattab. Khalifah Umar
ibn Khattab suatu ketika
mendapat serangan mematikan
dari Abu Lu’lu’ah. Dalam keadaan
terluka parah, sejumlah sahabat
menemui Khalifah memberi
saran. "Wahai Amirul Mu’minin,
bukankah sebaiknya engkau
segera menunjuk salah seorang
wakil yang akan menggantikan
engkau?"
"Siapakah orangnya? Andaikata
Abu Ubaidah Ibn Jarrah masih
hidup, niscaya aku akan tunjuk
dia sebagai pengganti." Salah
satu sahabat berkata, "Saya akan
menunjukkan nama pengganti
itu. Tunjuklah Abdullah ibn
Umar."
"Demi Allah, engkau keliru. Aku
tak bermaksud menunjuk orang
yang kau usulkan itu. Apa yang
kau harapkan dari keluargaku
untuk pekerjaan ini, sudah
cukuplah dan dari keluargaku
aku seorang diri saja yang akan
diperiksa Allah dan yang akan
ditanya tentang hal-hal mengenai
umat Muhamad saw ini."
Kondisi Umar terus memburuk,
belum juga ada nama
penggantinya. Sekali lagi para
sahabat menemui Khalifah,
mendorong menunjuk calon
penerusnya. Khalifah pun
memberi nama-nama calon itu.
"Hendaklah kamu berpegang
teguh kepada calon yang terdiri
dari beberapa orang, dan orang
yang kucalonkan ini ialah
beberapa orang yang sewaktu
Rasulullah wafat, beliau rela
kepada orang-orang ini, dan
orang-orang ini termasuk yang
dijanjikan Rasulullah masuk
surga. Mereka ialah Ali ibn Abi
Thalib, Utsman ibn Affan, Saad
ibn Abi Waqqash, Abdurrahman
ibn Auf, Thalhah ibn Ubaidillah,
dan Abdullah ibn Umar."
Akhirnya masuk juga nama anak
Umar ini. Tapi, kata Umar, Ibn
Umar hanya berhak memilih, tapi
tidak berhak dipilih. Menurut
periwayat, Abdullah ibn Umar
sampai mendorong terpilihnya
Usman ibn Affan dengan
pertimbangan, Utsman ibn Affan
luas ilmunya, wara’, dan memiliki
kelebihan dan keistimewaan.
Antara lain, Utsman ibn Affan
menjadi suami dari dua anak
perempuan Rasulullah SAW.
Tak heran, dalam masa
kepemimpinan Utsman ibn Affan,
Abdullah ibn Umar kerap
dimintai nasihat. Puncaknya,
Utsman meminta Ibn Umar
memegang jabatan kadi yang
kemudian ditolaknya dengan
hujjah, alasan yang kuat.
Syahid setelah Mengingatkan
Penguasa. Namanya tak kalah
terkenal dibanding ayahandanya,
Umar ibn Khattab. Ia lahir di
Mekah, 10 tahun sebelum Hijrah
atau 612 Masehi. Dalam usia 10
tahun, Abdullah cilik ikut ayahnya
berhijrah. Abdullah adalah
contoh sahabat Nabi yang amat
terpelajar di Madinah, di masa
kejayaan Islam. Selain Basrah,
Madinah memang tumbuh
menjadi pusat pemikiran Islam
pasca masa Nabi SAW.
Kegairahan Abdullah seolah
melengkapi kekurangan yang
ada di kalangan penuntut ilmu-
ilmu Islam, karena ia mendalami
segi ajaran Islam yang saat itu
kurang memperoleh perhatian
serius. Yakni tradisi atau hadis
Rasulullah saw. Menurut para
periwayat, Abdullah
mendapatkan inspirasi luar biasa
karena ia tinggal di Madinah,
yakni tumbuhnya
kecenderungan mendengarkan,
mencatat, dan mengkritisi
berbagai hal mengenai Nabi,
termasuk anekdot-anekdot yang
sepeninggal Nabi banyak
diungkapkan penduduk
Madinah.
Putra Umar ini perintis awal
bersama sahabat yang lainnya
yakni Abu Hurairah dalam bidang
hadis (tradisi) Nabi SAW. Ia
periwayat hadis kedua terbanyak
setelah Abu Hurairah, yakni
meriwayatkan 2.630 hadis. Ia
pun hapal Quran secara
sempurna. Selain itu, ia banyak
menerima hadis langsung dari
Nabi SAW, dari para sahabat Nabi
termasuk ayahnya, Umar ibn
Khattab ra.
Selama 60 tahun setelah Nabi
wafat, ia menjadi salah satu mata
air pengetahuan menyangkut
hadis yang banyak dihapalnya,
baik karena ia mendengar
langsung dari Nabi atau bertanya
kepada orang-orang yang
menghadiri majelis Nabi
menyangkut tutur dan perbuatan
Nabi. Ia kerap diminta fatwa dan
pertimbangan, tetapi ia juga
saking berhati-hatinya ia
menolak diminta ijtihadnya.
Kecintaannya kepada Rasulullah,
kemampuannya mengingat tutur
dan perbuatan Nabi, menjaga
substansi ajaran sebagaimana
dulu Nabi menyampaikannya,
membuat Abdullah ibn Umar
bersama Abdullah ibn Abbas
dianggap pemula bagi golongan
yang kemudian disebut
golongan sunni.
Abdullah ibn Umar memang
hidup dalam beberapa masa
kekhalifahan, di antaranya ada
masa-masa penuh pergolakan
antar kelompok Islam.
Menghadapi situasi keras, Ibn
Umar tak berubah menjadi kasar
dan pembalas. Suatu ketika,
Gubernur Mu’awiyah, Al-Hajjaj ibn
Yusuf, yang berkedudukan di
Hijaz tengah berpidato di masjid.
Sang gubernur terkenal kejam
dan fasik. Kebetulan Abdullah ibn
Umar ada di masjid itu.
Saat itulah, orang-orang
semasanya mendapat bukti,
betapa kelembutan dan
kesabaran Ibn Umar, tidak
berarti lemah terhadap
kezaliman. Dengan tenang, Ibn
Umar berdiri masih saat
Gubernur Hajjaj masih di mimbar,
dan berkata, "Engkau musuh
Allah. Engkau menghalalkan
barang yang diharamkan Allah.
Engkau meruntuhkan rumah
Allah, dan engkau membunuh
banyak wali Allah." Al Hajjaj
menyetop pidatonya. "Siapakah
orang bicara tadi?" Seseorang
menjawab, itu Abdulah ibn Umar.
Lalu Hajjaj meneruskan
pidatonya. "Diam, wahai orang
yang sudah pikun."
Seteleh Al-Hajjaj kembali ke
kantornya, diperintahkannya
pembantunya menikam Abdullah
ibn Umar dengan pisau beracun.
Si pembantu berhasil
menorehkan pisau beracun itu
ke tubuh Abdullah ibn Umar yang
lantas jatuh sakit. Di
pembaringan, Ibn Umar dijenguk
Al-Hajjaj. Al-Hajjaj beruluk salam,
Ibn Umar tak menjawab. Al-Hajjaj
menanyakan sesuatu, berbicara
dengan Abdullah ibn Umar tetapi
Abdullah ibn Umar tak menjawab
sepatah katapun.
Ibn Umar wafat tahun 72 Hijriyah
dalam usia 84 tahun. Putra Umar
ibn Khattab sebagaimana
ayahnya, sama-sama penggiat
Islam, telah pergi. Kalau Umar ibn
Khattab hidup di suatu masa di
mana banyak pula sahabat
Rasulullah yang wara’ dan ahli
ibadah, maka orang-ornag
semasa Abdullah ibn Umar
mengatakan, zaman ketika Ibn
Umar hidup sulit menemukan
sosok yang sealim dan seteguh
dia.
Menghindari Jabatan,
Antikekerasan
Benar, Ibn Umar bergairah kala
panggilan jihad berkumandang.
Tetapi, sungguh suatu
kenyataan, ia anti kekerasaan,
terlebih ketika yang bertikai
adalah sesama golongan Islam.
Kendati ia berulangkali mendapat
tawaran berbagai kelompok
politik untuk menjadi khalifah.
Hasan r.a. meriwayatkan, tatkala
Utsman ibn Affan terbunuh,
sekelompok umat Islam
memaksanya menjadi khalifah.
Mereka berteriak di depan rumah
Ibn Umar, "Anda adalah seorang
pemimpin, keluarlah agar kami
minta orang-orang berbai’at
kepada anda." Tapi Ibn Umar
menyahut, "Demi Allah,
seandainya bisa janganlah ada
walau darah setetas tertumpah
disebabkan daku." Massa di luar
mengancam. "Anda harus keluar.
Atau, kalau tidak kami bunuh di
tempat tidurmu." Diancam
begitu, Umar tak tergerak. Massa
pun bubar.
Sampai suatu ketika datang lagi
ke sekian kali tawaran menjadi
khalifah. Ibn Umar mengajukan
syarat, yakni asal ia dipilih
seluruh kaum muslimin tanpa
paksaan. Jika bai’at dipaksakan
sebagian orang atas sebagian
lainnya di bawah ancaman
pedang, ia akan menolak jabatan
khalifah yang dicapai dengan
cara semacam itu. Saat itu, sudah
pasti syarat ini takkan terpenuhi.
Mereka sudah terpecah menjadi
beberapa firqah, saling
mengangkat senjata pula. Ada
yang kesal lantas menghardik
Ibn Umar.
"Tak seorang pun lebih buruk
perlakuannya terhadap umat
manusia, kecuali engkau."
"Kenapa? Demi Allah tak pernah
aku menumpahkan darah
mereka, tidak pula aku berpisah
dengan jamaah mereka apalagi
memecah-mecah persatuan
mereka?" saut Ibn Umar heran.
"Seandanya kamu mau menjadi
khalifah, tak seorang pun akan
menentang."
"Saya tak suka kalau dalam hal ini
seorang mengatakan setuju,
sedang yang lain tidak."
Lagi-lagi, Ibn Umar menghindari
posisi pemimpin tertinggi umat
Islam ini. Meski demikian, saat ia
berusia lanjut pun harapan
orang dipimpin Ibn Umar tetap
ada. Ketika Muawiyah II putera
Yazid beberapa kali menduduki
jabatan khalifah. Datang Marwan
menemui Ibn Umar. "Ulurkan
tangan Anda agar kami berbaiat.
Anda adalah pemimpin Islam dan
putra dari pemimpinnya."
"Lantas apa yang kita lakukan
terhadap orang-orang masyriq?"
"Kita gempur mereka sampai
mau berbaiat."
"Demi Allah, aku tak sudi dalam
umurku yang tujuhpuluh tahun
ini, ada seorang manusia yang
terbunuh disebabkan olehku."
Mendengar jawaban ini, Marwan
pun berlalu, dan melontarkan
syair.
"Api fitnah berkobar sepeninggal
Abu Laila, dan kerajaan akan
berada di tangan yang kuat lagi
perkasa." Abu Laila yang
dimaksudkannya, ialah Muawiyah
ibn Yazid.
Sikap penolakan Ibn Umar ini
karena ia ingin netral di tengah
kekalutan para pengikut Ali dan
Muawiyah. Sikap itu
diungkapkannya dengan
pernyataan, "Siapa yang berkata
'Marilah salat’, akan kupenuhi.
Siapa yang berkata 'Marilah
menuju kebahagiaan’, akan
kuturuti pula. Tetapi siapa yang
mengatakan 'Marilah membunuh
saudaramu seagama dan
merampas hartanya’ aku
katakan: tidak!"
Ini bukan karena Ibn Umar
lemah, tapi karena ia sangat
berhati-hati, dan amat sedih
umat Islam berfirkah-firkah. Ia
tak suka berpihak pada salah
satunya. Pernah, Abul 'Ali Al-Barra
berada di belakang Ibn Umar
tanpa sepengetahuannya.
Didengarnya Ibn Umar bicara
pada dirinya sendiri, "Mereka
letakkan pedang-pedang mereka
di atas pundak-pundak lainnya,
mereka berbunuhan lalu berkata,
hai Abdulah ibn Umar ikutlah dan
berikan bantuan. Sungguh
menyedihkan." Begitulah,
gambaran suasana hati Abdulah
ibn Umar.
Meskipun pada akhirnya, pernah
Abdulah ibn Umar berkata,
"Tiada sesuatu pun yang
kusesalkan karena tak kuperoleh,
kecuali satu hal, aku amat
menyesal tak mendampingi Ali
memerangi golongan
pendurhaka." Tapi kemudian, Ibn
Umar tak mampu menyetop
peperangan, sehigga ia menjauhi
semuanya. Seseorang
menggugatnya. Mengapa ia tak
membela Ali dan pengikutnya
kalau ia merasa Ali di pihak yang
benar, Abdullah ibn Umar
menjawab, "Karena Allah telah
mengharamkan atasku
menumpahkan darah Muslim."
Lalu dibacanya Q.2:193,
perangilah mereka itu hingga tak
ada lagi fitnah dan hingga
orang-orang beragama itu ikhlas
semata-mata karena Allah.
Ibn Umar melanjutkan, "Kita telah
melakukan itu, memerangi
orang-orang musyrik hingga
agama itu semata bagi Allah.
Tetapi sekarang apa tujuan kita
berperang? Aku sudah mulai
berperang semenjak berhala-
berhala memenuhi Masjidil
Haram dari pintu sampai ke
sudut-sudutnya, hingga akhirnya
semua dibasmi Allah dari bumi
Arab. Sekarang, apakah aku akan
memerangi orang yang
mengucapkan "laa ilaaha illallah"?
Selain mendaftar keutamaan
sifat-sifat Ibnu Umar, bapak
sosiologi Ibnu Khaldun dalam
Muqaddimah mengkritisi Ibnu
Umar. Menurutnya Abdullah bin
Umar melarikan diri dari urusan
kenegaraan karena sifatnya
memang senang menghindar
dari ikut campur dalam urusan
apapun, baik yang boleh maupun
yang terlarang. Wallahu ’alam